Apa yang Anda rasakan ketika alarm berbunyi, tapi tubuh enggan bergerak?
Ketika pekerjaan menumpuk, namun hati justru ingin berhenti sejenak?
Mungkin Anda pernah diam-diam bertanya, “Kenapa saya jadi malas begini?”
Judul buku ini mungkin terdengar provokatif. Seolah-olah mengajarkan kita untuk bermalas-malasan.
Namun justru di sanalah letak kejujurannya.
Buku Tidak Apa-Apa, Malas Saja karya Muhajjah Saratini mengajak kita melihat rasa malas dari sudut pandang yang lebih manusiawi.
Bahwa tidak semua rasa malas adalah kelemahan. Ada kalanya ia hadir sebagai sinyal bahwa tubuh, pikiran, dan hati kita sedang kelelahan.
Kita hidup di tengah tuntutan untuk selalu produktif, selalu kuat, selalu siap dan tanpa sada kita merasa bersalah hanya karena ingin berhenti sejenak.
Padahal, setiap emosi membawa pesan, termasuk rasa malas.
Buku ini menuntun Anda menelusuri apa yang sebenarnya tersembunyi di balik keengganan itu.
Apakah ia bentuk kelelahan, kejenuhan, kehilangan makna, atau justru kebutuhan untuk menata ulang prioritas?
Dengan bahasa yang hangat dan reflektif, buku ini membantu Anda memahami kapan rasa malas boleh diikuti sebagai momen jeda dan kapan perlu dilawan agar tidak berubah menjadi penghambat langkah.
Bukan untuk membenarkan kemalasan tanpa batas, tetapi untuk mengelolanya dengan bijak.
Bayangkan jika lain kali rasa malas datang, Anda tidak lagi memaki diri sendiri dan tidak lagi merasa gagal.
Anda hanya tersenyum dan berbisik, “Tidak apa-apa.” lalu Anda tahu harus melakukan apa.
Jika Anda pernah merasa lelah, kehilangan semangat, atau terlalu keras pada diri sendiri, buku ini bisa menjadi sahabat yang menenangkan sekaligus menguatkan.
Miliki Tidak Apa-Apa, Malas Saja hari ini dan temukan cara berdamai dengan diri sendiri, tanpa kehilangan arah untuk tetap bertumbuh.