Dalam keseharian, mengalah sering dianggap sebagai cara menjaga hubungan.
Mengiyakan permintaan, menyimpan pendapat, dan berkata “tidak apa-apa” terasa lebih mudah daripada mengecewakan seseorang.
Namun, ketika terus dilakukan, kebutuhan diri sendiri bisa semakin terabaikan.
Bagaimana jika hubungan yang baik juga memberi ruang untuk berkata “tidak”? Bagaimana jika menjadi diri sendiri tidak harus berarti selalu memenuhi harapan orang lain?
Buku Saat Aku Mengerti Diriku karya Reinat Fuad mengajak pembaca merenungkan kebiasaan terus memberi, takut mengecewakan, dan mengabaikan keinginan sendiri demi diterima.
Sebuah ajakan untuk mengenali cerita tentang diri yang selama ini dipercaya, termasuk anggapan bahwa kasih sayang harus diperoleh dengan selalu mengalah.
Bayangkan memiliki waktu untuk mendengarkan keinginan sendiri.
Belajar menghargai kebaikan dalam diri, menyampaikan pendapat, dan tetap peduli kepada orang lain tanpa melupakan kebutuhan pribadi.
Dari refleksi seperti inilah pemahaman diri dapat mulai tumbuh.
Berangkat dari kegelisahan tentang kehidupan yang terlalu banyak diarahkan oleh harapan orang lain, buku ini menghadirkan pertanyaan yang dekat dengan keseharian.
Pertanyaan untuk dibaca perlahan dan direnungkan: mana yang benar-benar menjadi pilihan diri, dan mana yang dilakukan hanya demi mendapat penerimaan?
Berikan ruang untuk mengenal diri lebih jujur.
Miliki buku Saat Aku Mengerti Diriku dan mulai refleksi dari halaman pertama.