Sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka, perbedaan ideologi telah hidup di tengah masyarakat.
Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme tumbuh sebagai kekuatan besar yang memiliki pandangan serta jalan perjuangannya masing-masing.
Namun, apakah perbedaan itu harus selalu berakhir menjadi pertentangan?Dalam buku Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, Ir. Soekarno menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan tersebut dapat dipertemukan dalam satu tujuan besar: membebaskan bangsa dari penjajahan dan membangun persatuan.
Soekarno memandang nasionalisme sebagai kesadaran bahwa rakyat merupakan satu bangsa.
Ia menjelaskan bahwa Islam sejati tidak bertentangan dengan semangat kebangsaan dan keadilan sosial.
Ia pun melihat adanya ruang kerja sama antara kaum Marxis, Nasionalis, dan Islamis dalam menghadapi penindasan.
Buku ini menghimpun pemikiran-pemikiran Soekarno yang ditulis sepanjang 1928–1940 dan pernah dimuat dalam berbagai surat kabar, terutama Suluh Indonesia Muda dan Pikiran Rakyat.
Melalui tulisan-tulisan tersebut, pembaca dapat mengikuti perkembangan gagasan yang membentuk arah perjuangannya menuju Indonesia merdeka.
Bukan sekadar catatan masa lalu, buku ini merupakan pintu untuk memahami pergulatan ideologi, semangat persatuan, dan fondasi pemikiran salah satu tokoh terpenting bangsa Indonesia.
Miliki buku Nasionalisme, Islamisme, Marxisme sekarang dan temukan gagasan yang membantu menjelaskan perjalanan intelektual di balik lahirnya sebuah bangsa.