Ada negara yang membuka banyak peluang bagi warganya.
Ada pula yang kekayaannya hanya dinikmati segelintir orang.
Apa yang membuat jalan keduanya begitu berbeda?
Jawabannya mengajak kita melihat lebih jauh dari sumber daya alam, budaya, atau lokasi suatu negara.
Dalam buku Mengapa Negara Gagal, Daron Acemoglu dan James A. Robinson menelusuri bagaimana aturan, kekuasaan, dan lembaga politik serta ekonomi membentuk kehidupan masyarakat.
Salah satu contoh yang dibahas adalah Korea Utara dan Korea Selatan.
Berangkat dari akar budaya yang sama, keduanya menempuh jalan berbeda.
Kisah ini membuka pertanyaan menarik: bagaimana sistem suatu negara dapat memperluas kesempatan atau justru membatasinya?
Melalui berbagai kisah sejarah, penulis menjelaskan perbedaan antara institusi inklusif yang membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan berkembang, dengan institusi ekstraktif yang memusatkan kekuasaan serta keuntungan pada kelompok tertentu.
Bayangkan membaca berita tentang ekonomi, kemiskinan, dan pembangunan dengan pemahaman yang lebih luas.
Anda mulai melihat hubungan antara keputusan pemimpin, aturan yang berlaku, dan peluang dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini menawarkan sudut pandang untuk memahami mengapa kemakmuran dapat tumbuh, mengapa ketimpangan bertahan, dan mengapa perubahan sering kali sulit terjadi.
Temukan cerita di balik maju dan mundurnya sebuah negara.