Ada ungkapan yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna begitu dalam.
Ada pula kalimat yang tampak bertentangan jika dibaca secara harfiah, padahal lahir dari pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa.
Di sinilah tasawuf sering disalahpahami.
Ungkapan para sufi, termasuk yang dikenal sebagai syathahat, tidak selalu dapat dipahami hanya dari susunan katanya.
Ia memerlukan konteks, kehati-hatian, serta pengetahuan yang memadai agar pembaca tidak tergesa-gesa menilai, menyesatkan, atau bahkan mengafirkan seseorang hanya karena pernyataan yang belum dipahami maksudnya.
Buku Meluruskan Tasawuf yang Disalahpahami karya Muhammad Nuruddin mengajak pembaca menelaah tasawuf secara lebih kritis sekaligus proporsional.
Penulis membahas kedudukan tasawuf dalam ajaran Islam, cara memahami ungkapan teofanik para sufi, serta pentingnya takwil ketika makna lahiriah suatu pernyataan tampak bermasalah secara akidah.
Buku ini juga hadir sebagai tanggapan kritis terhadap sejumlah pandangan dalam buku Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi karya KH. Said Aqil Siraj.
Dengan argumentasi yang disusun secara terbuka, pembaca diajak membandingkan pemikiran, menimbang dalil, dan memahami letak perbedaan secara lebih jernih.
Bacaan ini cocok bagi mahasiswa, akademisi, santri, pengajar, serta siapa saja yang ingin mengkaji tasawuf tanpa terjebak pada penolakan maupun penerimaan yang tergesa-gesa.
Miliki bukunya sekarang dan temukan cara membaca tasawuf dengan ilmu, kehati-hatian, serta keluasan pandangan.