Kadang, kehilangan tidak langsung terasa sebagai luka besar.
Ia datang diam-diam, lewat ruangan yang mendadak kosong, aroma yang perlahan hilang, dan benda-benda kecil yang dulu terasa biasa, tapi kini berubah menjadi satu-satunya cara untuk mengingat seseorang.
Dalam Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia karya Megakata, kita diajak masuk ke dalam kisah tentang kehilangan, kenangan, cinta, dan cara manusia bertahan di dunia yang sering kali terasa terlalu keras.
Kepergian Kakek meninggalkan banyak pertanyaan.
Mengapa orang-orang begitu cepat melanjutkan hidup?
Mengapa ruang yang menyimpan wangi Kakek harus dibongkar begitu saja?
Dan mengapa hanya sebuah buku tua yang terasa masih menyimpan kehadirannya?
Dari buku yang sering dibaca Kakek dan ditulis ulang dengan mesin tik tua, sang tokoh mulai membaca halaman demi halaman.
Ia mengira sedang menyelamatkan peninggalan terakhir Kakek.
Namun semakin jauh ia membaca, semakin ia menemukan sesuatu yang lebih dalam: kebingungan, ketakutan, kesepian, juga cinta yang tidak selalu mudah dijelaskan.
Buku ini bukan hanya tentang duka, tetapi tentang cara kita memahami hidup setelah kehilangan.
Tentang bagaimana kata-kata bisa menjadi tempat pulang, bagaimana kenangan bisa tetap hidup, dan bagaimana sebuah bacaan dapat menemani seseorang melewati bagian dunia yang paling brengsek sekalipun.
Jika Anda pernah merasa kehilangan seseorang, merasa sendirian di tengah ramai, atau sedang mencari bacaan yang bisa memeluk luka tanpa banyak menghakimi, buku ini layak Anda temukan.
Karena mungkin, seperti kisah di dalamnya, bukan Anda yang sedang menyelamatkan buku ini.
Bisa jadi, justru buku inilah yang perlahan menyelamatkan Anda.