Ada luka yang tidak tampak oleh mata. Seseorang mungkin tetap bekerja, tersenyum, dan menjalani rutinitas seperti biasa, sementara di dalam dirinya berlangsung pergulatan yang sulit dijelaskan.
Sayangnya, depresi masih sering dipandang sebagai kelemahan, kurang bersyukur, atau sekadar kesedihan biasa.
Stigma semacam ini dapat membuat orang yang mengalaminya merasa semakin sendirian dan kesulitan memperoleh dukungan yang tepat.
Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy, seorang penyintas depresi dan akademisi psikologi, hadir untuk membantu pembaca memahami depresi secara lebih utuh, manusiawi, dan berbasis pengetahuan.
Buku ini mengajak pembaca mengenali hubungan antara tubuh, pikiran, dan emosi.
Pembahasannya mencakup aspek klinis dan budaya, faktor internal serta eksternal, gejala yang dapat menyertai depresi, hingga pencarian makna di balik pergulatan jiwa.
Bukan hanya relevan bagi mereka yang ingin mengenal kesehatan mental, buku ini juga penting bagi keluarga, pasangan, sahabat, dan pendamping yang ingin memberikan dukungan dengan empati tanpa terburu-buru menghakimi.
Ditulis dari perpaduan pengalaman pribadi dan perspektif psikologi, buku ini memperlihatkan bahwa memahami luka batin bukan berarti memelihara kesedihan.
Pemahaman dapat menjadi awal untuk membuka ruang percakapan, mencari pertolongan, dan menemani proses pemulihan dengan lebih bijaksana.
Karena terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat panjang, melainkan kehadiran yang bersedia memahami.
Miliki Loving the Wounded Soul sekarang dan temukan cara yang lebih manusiawi untuk memahami jiwa, mendampingi luka, serta memaknai kehidupan.