Ada saatnya seseorang tersenyum bukan karena bahagia, tetapi karena tidak ingin menimbulkan pertanyaan.
Mengikuti banyak tuntutan, memenuhi harapan orang lain, dan berusaha menjadi sosok yang dianggap “seharusnya” perlahan dapat menjauhkan manusia dari dirinya sendiri.
Tidak semua orang berani berkata jujur tentang apa yang dirasakan.
Keinginan untuk diterima, ketakutan mengecewakan, dan kebiasaan menyenangkan semua orang sering membuat kepura-puraan terasa lebih aman.
Namun, setiap kepura-puraan memiliki batas. Jika terus dipertahankan, hati yang akan menanggung lelahnya.
Buku Lelah Berpura-pura: Berani Hidup Apa Adanya karya Tikah Kumala menghadirkan kisah dan pengalaman hidup yang mengajak pembaca kembali mengenali diri.
Bukan untuk menjadi egois atau mengabaikan perasaan orang lain, melainkan belajar hidup lebih jujur tanpa terus kehilangan diri demi memenuhi keinginan semua orang.
Setiap halaman terasa seperti teman yang mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu terlihat kuat, tidak wajib diterima oleh semua orang, dan tidak perlu memainkan peran yang menyiksa hanya agar dianggap cukup.
Buku ini dapat menemani proses memahami perasaan, menerima ketidaksempurnaan, menetapkan batas yang sehat, serta menemukan keberanian untuk tampil apa adanya tanpa drama yang melelahkan.
Barangkali hidup tidak perlu terus dijalani dengan topeng.
Miliki buku Lelah Berpura-pura: Berani Hidup Apa Adanya sekarang dan mulailah memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, merasa, dan hidup dengan lebih jujur.