Ada cinta yang tumbuh karena pertemuan.
Ada pula cinta yang justru menjadi abadi karena terus dipisahkan.
Layla laksana taman melati pada musim semi, sedangkan Majnun seperti padang rumput pada musim gugur.
Layla menanam mawar, Majnun menyiraminya dengan air mata.
Bahkan sebelum sempat menyesap anggur cinta, aromanya telah membuat Majnun kehilangan dirinya.
Layla Majnun karya Nizami Ganjavi membawa pembaca memasuki kisah dua insan yang saling mencintai, tetapi tak pernah diberi kesempatan menjalani kehidupan bersama.
Majnun mengembara dalam kegilaan hingga menjauh dari manusia dan bersahabat dengan alam.
Sementara itu, Layla harus menjalani pernikahan yang tidak pernah dipilih hatinya.
Namun, kisah ini bukan sekadar cerita tentang cinta yang kandas.
Di balik kerinduan, perpisahan, dan air mata, tersimpan renungan tentang kesetiaan, pengorbanan, serta cinta yang perlahan melampaui keinginan untuk memiliki.
Cinta yang semula tertuju kepada manusia menjelma menjadi perjalanan batin menuju sesuatu yang lebih luhur dan abadi.
Dikenal sebagai salah satu kisah cinta terbesar dalam khazanah sastra Islam, Layla Majnun telah memberi pengaruh luas terhadap perkembangan sastra di berbagai wilayah.
Bahasa Nizami yang puitis menjadikan setiap halaman terasa seperti taman tempat keindahan dan kesedihan tumbuh berdampingan.
Bagi pencinta sastra, puisi, kisah klasik, dan perenungan tentang makna cinta, buku ini layak menjadi koleksi yang terus dikenang.
Miliki Layla Majnun sekarang dan temukan kisah cinta yang tidak berakhir ketika dua manusia dipisahkan karena cinta mereka justru hidup melampaui kehidupan.