Seberapa jauh seseorang akan melangkah ketika ia memiliki kuasa untuk menentukan hidup dan mati orang lain?
Caligula pernah dipandang sebagai kaisar muda yang sederhana dan menjanjikan.
Pada awal pemerintahannya, ia menghormati senat, bersikap terbuka terhadap penentang, dan mengadakan perayaan untuk rakyat Roma.
Namun, setelah mengalami kehilangan besar dan terserang penyakit misterius, sosoknya berubah.
Ia mulai menolak batas, mempermainkan hukum, dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menguji manusia.
Orang-orang terdekat, rakyat Roma, bahkan cinta yang pernah dimilikinya terseret ke dalam ambisi yang semakin sulit dipahami.
Di balik kekejamannya, muncul pertanyaan yang jauh lebih mengusik: apakah hidup memiliki makna jika kematian pada akhirnya tidak dapat dihindari?
Caligula karya Albert Camus bukan sekadar drama tentang seorang penguasa yang dianggap gila.
Melalui percakapan tajam dan konflik yang mencekam, Camus membedah absurditas kehidupan, kesepian, kebebasan, kehilangan, serta bahaya ketika manusia mengejar kemutlakan tanpa batas moral.
Ditulis ketika Camus masih muda dan pertama kali dipentaskan di Paris pada 1945, karya ini memperlihatkan bagaimana panggung teater dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan kekuasaan sekaligus sisi tergelap manusia.
Buku ini cocok bagi pencinta sastra klasik, filsafat, sejarah, dan drama psikologis yang mencari bacaan menantang serta penuh perenungan.
Miliki Caligula sekarang Masuki istana Roma, saksikan kekuasaan kehilangan kendali, dan temukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terus tinggal dalam pikiran setelah halaman terakhir.