Pernah merasa ada di tengah-tengah keluarga, tapi justru paling sering merasa sendirian?
Bukan karena tidak dicintai, bukan karena tidak punya tempat.
Tapi entah kenapa, sejak kecil kamu seperti terbiasa memahami orang lain, menahan banyak hal sendiri, lalu tumbuh menjadi seseorang yang terlihat kuat, padahal di dalamnya ada luka-luka kecil yang lama sekali tidak diberi nama.
Anak Tengah yang Merayakan Lukanya karya Nusril Muchtadi hadir untuk kamu yang pernah merasa tidak cukup terlihat, tidak cukup didengar, dan terlalu sering mengalah sampai lupa cara memeluk diri sendiri.
Buku ini bukan sekadar bercerita tentang luka menjadi anak tengah. Ia mengajak kita pelan-pelan menyadari bahwa semua rasa sepi, jarak, kecewa, dan rindu yang selama ini disimpan diam-diam ternyata layak untuk dimengerti, bukan dihakimi.
Di dalamnya, kamu akan menemukan perjalanan yang dekat dengan hati: tentang bertahan tanpa banyak tepuk tangan, tumbuh dewasa sambil membawa banyak tanya, dan belajar bahwa mencintai keluarga tidak harus selalu berarti mengubur perasaan sendiri.
Buku ini seperti pelukan lembut untuk jiwa yang lama merasa tersesat.
Mengingatkan bahwa luka tidak harus diwariskan, cinta masih bisa diteruskan, dan perjalanan hidupmu tetap pantas dirayakan, meski tidak selalu dipahami semua orang.
Jika selama ini kamu sering merasa “aku baik-baik saja” padahal sebenarnya lelah, mungkin buku ini bisa menjadi ruang tenang untuk pulang kepada dirimu sendiri.
Miliki Anak Tengah yang Merayakan Lukanya sekarang, dan izinkan hatimu membaca sesuatu yang selama ini mungkin sulit kamu ucapkan.